Pandangan “PEMIMPIN” Dalam Islam

pemimpin-          Assalamualaikum sobat pembaca yang setia. Maaf baru bisa hadir ditengah kalian karena tugas tugas yg begitu banyak. Berhubung nanti pada tanggal 9 Juli 2014 (sekitar 2 hari lagi) akan diaadakan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, saya akan membahas sedikit nih apasih pandangan islam dalam melihat sosok pemimpin. Semoga artikel ini bisa memberikan sedikit pengertian untuk para pembaca.

KONSEP ISLAM DALAM MEMILIH PEMIMPIN

        Para calon pemimpin, baik yang akan mempamirkan diri sebagai pemimpin terbaik yang layak dipilih masyarakat untuk membawa, agama, bangsa dan negara maju dan makmur di masa depan. Bagaimanakah Islam memandang tentang Pemimpin dan Kepemimpinan, serta seperti apakah pemimpin yang baik itu ? Mari kita baca sekilas tentang apa saja sih pandangan pandangan islam tentang pemimpin.

Pemimpin Dalam Pandangan Islam
Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peranan manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk setiasa mengabdi dan beribadah kepada- Nya.

Allah berfirman:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzaariyaat: 56)

Rasulullah SAW. bersabda:
Dari Abdullah bin Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:“Masing-masing kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (Presiden) yang memimpin masyarakat adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban kepemimpinannya atas mereka.Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin atas ahli (keluarga) di rumahnya, dia akan dimintai pertanggung jawaban kepemimpinannya atas mereka. Seorang perempuan(isteri) adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dia akan dimintai pertanggung jawabkan kepemimpinannya atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dia akan dimintai pertanggung jawabkan kepemimpinannya atas harta itu. Ketahuailah masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawabkan kepemimpinan atas yang dipimpinnya”.

(HR.Bukhari)

Dalam implementasinya, pemimpin terbagi dua:
Pertama, pemimpin yang dapat memimpin sesuai dengan apa yang diamanatkan Allah dan Rasul-Nya dan
Kedua, pemimpin yang bertanggung jawab atas amanat Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah:
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah, Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami. (As-Sajdah: 24)
Dan Kami jadikan mereka (Firaun dan bala tentaranya) pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.(Al-Qashash: 41)

Kriteria Capres Pilihan Umat Islam

Topik Pemilu hari-hari ini sangat santer menjadi buah bibir dan tema hangat berbagai media sosial, pasalnya dalam waktu dekat ini negara Indonesia akan mengadakan hajatan besar untuk pemilihan presiden dan wakilnya, tepatnya di 9 Juli mendatang yang akan bertepataan saat umat Islam menjalankan ibadah puasa. Tentu saja, kita semua berharap agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang mampu menjalankan amanat berat dan kursi panas tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebagai umat Islam, tentu kita akan penasaran dan mulai memikirkan kepada siapakah pilihan kita akan kita berikan?!

Nah, untuk membantu para sobat dalam memlih pemimpin yang baik, berikut ini kami akan sampaikan kriteria pemimpin dalam Islam sehingga bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk menentukan pilihan nanti.

IKUT PEMILU ATAU GOLPUT SAJA?

Masalah ini diperselisihkan para ulama’ yang mu’tabar tentang boleh tidaknya kita mencoblos dalam pemilu, karena mempertimbangkan kaidah mashlahat dan mafsadat.

Pendapat Pertama: Sebagian ulama’ berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama’ Yaman karena tidak ada mashlahatnya bahkan ada mudharatnya.[1]

Pendapat Kedua: Sebagian ulama’ lainnya berpendapat boleh untuk menempuh mudharat yang lebih ringan seperti pendapat asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, dan lain-lain[2], karena “Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya” dan “Rabun itu lebih baik daripada buta”. Dan pertimbangan semua itu dikembalikan kepada para alim ulama dan para penuntut ilmu terpercaya di negeri/daerah masing-masing yang mengerti situasi dan kondisi setempat.

Dan pendapat inilah yang lebih kuat Insyallah sesuai dengan kaidah “Menempuh mafsadat yang lebih ringan” [3] dan ini bukan berarti mendukung sistem demokrasi yang memang bertentangan dengan sistem Islam.

Oleh karenanya, hendaknya kita berlapanga dada dengan perbedaan pendapat dalam masalah ini dan bagi yang memilih maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qawwiyyu al-Amin (memiliki skill lagi amanah), juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan memilih karena kepentingan duniawi semata.

SYARAT-SYARAT PEMIMPIN DALAM ISLAM

Adanya pemimpin merupakan tugas yang sangat mulia dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Karenanya, adanya pemimpin merupakan kewajiban demi tegaknya agama dan dunia, bahkan dahulu dikatakan: “Enam puluh tahun bersama pemimpin yang dzalim lebih baik daripada sehari semalam tanpa adanya pemimpin”.[5]

Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat imamah (kepemimpinan) sebagaimana berikut[6]:

1.Taklif: Ini meliputi Islam, baligh, dan berakal. Maka orang kafir tidak boleh dipilih menjadi pemimpin, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ 28

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. (QS Ali ’Imran [3]: 28)

Orang yang tidak berakal, baik karena masih kecil atau karena hilang akalnya, tidak boleh memegang kekuasaan dan yang semisalnya sama sekali.

2. Lelaki. Wilayah kubra (kepemimpinan tertinggi) tidak boleh bagi seorang perempuan dengan kesepakatan para ulama[7], dalilnya adalah hadits Abu Bakrah Radhiallahu ‘Anhu beliau berkata, “Tatkala sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang anak perempuan Kisra (gelar raja Persia), beliau bersabda:

« لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً ».

“Suatu kaum tidak akan beruntung jika dipimpin oleh seorang wanita.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 4073)

Dan ini sama sekali bukan pelecehan kepada wanita tetapi justru menghormatinya sebagai wanita yang memiliki tugas penting di istana keluarganya.[8]

3.Al-’Adalah. Yaitu sifat yang membuat pelakunya bertaqwa, menjauhi dosa-dosa, dan hal-hal yang merusak harga dirinya di tengah-tengah umat.

4.Ilmu dan tsaqafah. Seorang pemimpin disyaratkan orang yang mempunyai bagian yang besar dari ilmu syar’i dan tsaqafah, agar bisa mengetahui yang haq dari yang bathil dan mengatur urusan-urusan negara dengan penuh kemaslahatan bagi rakyat dan mengetahui strategi perang menghadapi musuh. Dan ilmu yang paling utama adalah tentang hukum-hukum Islam dan siyasah syar’iyyah (politik syar’i).

Rakyat tidak butuh kepada pemimpin yang rajin sholatnya atau rajin menelaah kitab-kitab ulama, aktif mengajar atau menulis buku, berhati-hati dari pembunuhan, padahal kondisi negerinya tengah dilanda kekacauan, yang kuat menginjak yang lemah, yang punya kekuasaan berbuat semena-mena terhadap rakyat lemah, karena jika demikian maka tidak ada artinya seorang pemimpin karena tidak memiliki peran penting dalam mengatasi masalah negara.[9]

5. Mengerti Tentang Politik Syar’i secara Matang. Seorang pemimpin harus mengerti tentang politik syar’I untuk pengaturan negara dan kebaikan rakyatnya, berpengalaman tentang urusan perang dan mengatur prajurit, membela negara dan perbatasan dan membela rakyat yang terdzalimi.[10]

6. Seorang Quraisy. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

« الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ ».

“Para pemimpin adalah dari Quraisy.” [11]

Hanya saja, persyaratan ini khusus bagi imamah ’uzhma ketika kaum muslimin seluruhnya dipimpin oleh seorang khalifah. Al-Imam al-Qurthubi Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Karena umat telah sepakat bahwa seluruh kepemimpinan-kepemimpinan sah bagi selain Quraisy kecuali imamah kubra.” [12]

7. Sehat panca indranya. Tidak boleh pemimpin itu tuli, buta atau bisu, karena hal itu sangaat berpengaruh baginya dalam menjalankan tugas beratnya sebagai pemimpin negara, adapun cacat lainnya yang tidak mempengaruhi maka tidak apa-apa.[13]

Al-Imam asy-Syaukani Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yang dimaksudkan dengan kepemimpinan tertinggi adalah pengaturan urusan-urusan manusia secara umum dan secara khusus, serta menjalankan perkara-perkara pada jalurnya dan meletakkannya pada tempatnya, dan ini tidak mudah dilakukan bagi orang yang ada cacat di dalam panca indranya.” (as-Sailul Jarrar 4/507)

Sikap rakyat terhadap pemimpin

Dalam proses pengangkatan seseorang sebagai pemimpin terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang memilih pemimpin adalah masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati pemimpin mereka, mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. Sabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang mengimami (memimpin) sekelompok manusia (walau) dalam sholat, sedangkan mereka tidak menyenanginya, maka sholatnya tidak melampaui kedua telinganya (tidak diterima Allah)”.

Di lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak dan memperhatikan penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak diutus kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti (kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, “Kami tidak pernah mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya”. dan Q. S. At-Taubah (9): 129, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukmin.

 

Demikian sedikit pandangan yang mungkin bisa bermanfaat bagi sobat sekalian. Bila ada kata kata yg salah mohon dimaafkan. Kita hanya ingin share ilmu, bukan untuk memihak kepada satu pihak. Jadi tentukan pilihanmu sekarang, karena pilihanmu, menentukan nasib bangsamu !

Wassalamualaikum Wr.Wb

Salam Sahabat Muslim

 

Fauza Aulia Rahman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: